Contoh Permohonan Cerai Talak dan Hak Asuh Anak

by | Jul 8, 2021 | Perceraian | 0 comments

Berikut adalah contoh Permohonan Cerai Talak dan Hak Asuh Anak yang diajukan Klien kami (beragama Islam) kepada istrinya di Pengadilan Agama Jakarta Barat :

Jakarta, 30 Februari 2020                                                     Ref. No.: 666/SL-F/PCT/II/2020

Kepada Yth.

KETUA PENGADILAN AGAMA JAKARTA BARAT

Jalan Pesanggrahan Raya No. 32

Kelurahan Kembangan Selatan, Kecamatan Kembagang

Jakarta Barat

Perihal: Permohonan Cerai Talak & Hak Asuh (Hadhanah) Anak

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini, Muhammad Aji Utomo, S.H., dan Krisna Adi Putra, S.H. M.H., Para Advokat yang berkantor di Kantor Pengacara Jakarta, yang beralamat di Grand Slipi Tower Lantai 5 Unit e dan f, Jl. Letjen S. Parman, Kav 22-24 Palmerah, Jakarta Barat 11480 Indonesia, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 24 Mei 2021 (terlampir), dan oleh karenanya dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Fulan bin Fulana, Laki-laki, Lahir di Jakarta 30 Februari 1986, Agama Islam, berdomisili dan bertempat tinggal di Jl. Hancur Mina No. 14, Jakarta Barat, selaku Pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor: 02114022, yang dalam hal ini memilih domisili hukum di kantor kuasanya tersebut di atas, untuk selanjutnya disebut sebagai Pemohon.

Dengan ini perkenankanlah Pemohon hendak mengajukan Permohonan Cerai Talak terhadap istri Pemohon, yang bernama:

Fulani binti Fulani, Perempuan, Lahir di Jakarta 31 Februari 1990, Agama Islam, berdomisili dan bertempat tinggal di Jl. Hancur Mina No. 14, Jakarta Barat, selaku Pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor: 02114025, untuk selanjutnya Termohon.

Adapun yang menjadi dasar dan alasan dari Pemohon untuk mengajukan Permohonan Cerai Talak dan Hak Asuh (Hadhanah) Anak ini (untuk selanjutnya disebut “Permohonan”), adalah sebagai berikut:

I. TENTANG PENGADILAN AGAMA JAKARTA BARAT BERWENANG MEMERIKSA DAN MENGADILI PERMOHONAN A QUO

  1. Bahwa berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Termohon Nomor: 02114025 (Bukti P-1) dan informasi dari Termohon diketahui fakta bahwa saat ini Termohon bertempat tinggal dan berdomisili di Jl. Hancur Mina No. 14 Jakarta Barat.
  1. Bahwa kondisi rumah tangga Pemohon dengan Termohon sudah tidak harmonis, dimana antara Pemohon dengan Termohon sering terjadi percekcokan dan pertengkaran yang terus menerus, yang tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi sebagai pasangan suami istri sebagaimana mestinya (Syiqaq), terlebih saat ini Pemohon dan Termohon sudah tidak tinggal bersama sejak 22 Maret 2021. Oleh karenanya, dengan ini Pemohon dengan ini mengajukan Permohonan ini kepada Pengadilan Agama Jakarta Barat sesuai dengan tempat tinggal dan domisili sesuai KTP Termohon Jo. Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Nomor 01 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“PP Perkawinan”) jo. 129 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”), yang menyatakan sebagai berikut:

Pasal 20 PP Perkawinan, sebagai berikut:

Gugatan perceraian diajukan oleh suami atau istri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman TERGUGAT.

Pasal 129 KHI, sebagai berikut:

Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada isterinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal isteri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.

  1. Dengan demikian, pengajuan Permohonan Cerai Talak yang diajukan oleh Pemohon di Pengadilan Agama Jakarta Barat ini sudah tepat dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, sehingga sudah selayaknya jika Permohonan Cerai Talak ini diterima oleh Pengadilan Agama Jakarta Barat.

II. TENTANG PERKAWINAN

  1. Bahwa Pemohon dan Termohon telah melangsungkan perkawinan sah secara agama Islam pada tanggal 31 Februari 2000, yang tercatat di Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, sebagaimana tercantum dalam Kutipan Akta Nikah Nomor 212/XXI/2000 tertanggal 31 Februari 2000 (Bukti P-2);
  1. Bahwa dari perkawinan antara Pemohon dengan Termohon telah lahir seorang anak perempuan yang bernama Fulandari bin fulan, perempuan, lahir di Jakarta, pada tanggal 14 Februari 2005, sebagaimana tercatat dalam Kutipan Akta Kelahiran Nomor 008-LT-000-666 yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jakarta Barat, tertanggal 15 Maret 2005 (Bukti P-3);

II. TENTANG PERCEKCOKAN DAN PERTENGKARAN YANG TERUS MENERUS (SYIQAQ) DALAM KEHIDUPAN RUMAH TANGGA PEMOHON DAN TERMOHON

  1. Bahwa perkawinan antara Pemohon dan Termohon berjalan tenteram dan bahagia hanya berlangsung sampai dengan sekitar November 2017, karena sejak November 2020 ketenteraman rumah tangga antara Pemohon dan Termohon sering terjadi percekcokan dan pertengkaran yang terus menerus, yang tidak mungkin dapat dirukunkan kembali (Syiqaq).

Akibat tidak harmonisnya hubungan antara Pemohon dan Termohon, pada tanggal 31 Februari 2019 Termohon telah meninggalkan Pemohon dan anaknya, terlebih sejak sekitar Januari 2019 Pemohon dan Termohon sudah tidak pernah lagi terjadi hubungan suami istri sebagaimana layaknya pasangan suami istri;

  1. Bahwa kronologi perselisihan terus menerus yang terjadi antara Pemohon dan Termohon serta penyebab perselisihan tersebut sehingga mengakibatkan putusnya komunikasi dalam kehidupan perkawinan mereka, antara lain sebagai berikut:
  • Awal perselisihan antara Pemohon dan Termohon terjadi sekitar November 2007, dimana penyebab perselisihan tersebut karena adanya perubahan perilaku dan gaya hidup Termohon yang disebabkan awalnya karena Termohon mulai bekerja salah satu di Tombo Kangen Hotel, dimana Termohon sebagai seorang istri dan ibu telah lalai untuk mengurus rumah tangga dan memperhatikan kebutuhan suami serta anak, dan Termohon lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan pekerjaanya. Perubahan tersebut juga terjadi pada cara berpakaian Termohon yang kurang sopan, Termohon sampai Rumah Kediaman di waktu larut malam dan gaya hidup Termohon yang (dipaksakan) bermewah-mewahan yang sangat menguras tabungan;
  • Bahwa walaupun sikap Termohon berubah, namun Pemohon sebagai suami sering memberikan nasihat dan mengingatkan Termohon akan kewajibannya sebagai ibu dan istri dari Pemohon, akan tetapi nasihat Pemohon tidak diindahkan dan dianggap oleh Termohon. Termohon sebagai istri telah lalai menjalankan kewajibannya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 33 dan Pasal 34 ayat 2 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU No. 1/1974”) jo. Pasal 77 ayat 1 sampai ayat 4 dan Pasal 83 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”);
  • Selanjutnya, diketemukan fakta bahwa Termohon sebagai istri Pemohon tidak memelihara kehormatannya sebagaimana kewajiban suami istri dalam suatu perkawinan, dengan ditemukan fakta bahwa……………………….

untuk memperoleh dan mengetahui versi lengkap dari Format Permohonan Cerai Talak (dalam format dokumen microsoft word atau pdf), mohon dapat menghubungi Admin dari Kantor Pengacara Jakarta pada 0816 1920 335. Besar harapan kami, Kantor Pengacara Jakarta dapat membantu menyelesaikan masalah anda.

Check Out These Related Posts

0 Comments

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *