Contoh Format Gugatan Perceraian

by | Jul 19, 2021 | Perceraian | 0 comments

Berikut adalah contoh Format Gugatan Perceraian pada Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang diajukan Klien kami kepada pasangannya (untuk pengajuan gugatan cerai Agama Katholik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan Khonghucu):

Jakarta, 30 Februari 2020                                                    Ref. No.: 666/SL-M/GP/II/2020

Kepada Yth.

Kepada Yth.

KETUA PENGADILAN NEGERI JAKARTA TIMUR

Jl. DR. Sumarno No 1 (Sentra Primer)

Penggilingan Jakarta Timur

Perihal: Gugatan Perceraian

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini, Muhammad Aji Utomo, S.H., dan Krisna Adi Putra, S.H. M.H., Para Advokat yang berkantor di Kantor Pengacara Jakarta, yang beralamat di Grand Slipi Tower Lantai 5 Unit e dan f, Jl. Letjen S. Parman, Kav 22-24 Palmerah, Jakarta Barat 11480 Indonesia, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 24 Mei 2021 (terlampir), dan oleh karenanya dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pauleranesius, lahir di Jakarta 30 Februari 1983, Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Karyawan Swasta, Agama Katolik, bertempat tinggal di Jl. Hancur Mina No. 14, Jakarta Timur, pemegang Kartu Tanda Penduduk No. 02114022, yang dalam hal ini memilih domisili hukum di kantor kuasanya tersebut di atas, untuk selanjutnya disebut sebagai Penggugat.

Dengan ini Penggugat hendak mengajukan gugatan perdata (perceraian) terhadap istri Penggugat, yang bernama:

Meirinasius, Perempuan, Lahir di Jakarta 31 Februari 1987, Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Karyawan Swasta, Agama Katolik, berdomisili dan bertempat tinggal di Jl. Hancur Mina No. 14, Jakarta Timur, selaku Pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor: 02114025, untuk selanjutnya Tergugat.

Adapun yang menjadi dasar dan alasan dari Penggugat untuk mengajukan gugatan perceraian ini, adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa pada tanggal 32 Maret 2014, Penggugat dan Tergugat telah melangsungkan perkawinan secara agama Katolik di Gereja Keluarga Jakarta.
  1. Lebih lanjut, untuk memenuhi persyaratan sahnya suatu perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU No. 1/1974”) Jo. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan atas Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“PP No. 9/1975”), maka perkawinan antara Penggugat dan Tergugat tersebut dicatatkan di Kantor Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Administrasi Jakarta Pusat, sebagaimana terlihat dalam Kutipan Akta Perkawinan No.: 354/JP/2014, tanggal 2 Maret 2014 (“Akta Perkawinan No. 354/2014”) (Bukti P-1).
  1. Selama melangsungkan perkawinan Penggugat dan Tergugat telah dikaruniai 1 orang anak yaitu: Gracianne Griselda Wibowo, lahir di Bogor, tanggal 31 Desember 2015 dengan Kutipan Akta Kelahiran No 3175—LT-02032016-0201 tertanggal 2 Maret 2016 (Bukti P-2).
  1. Pada awalnya kehidupan rumah tangga dan perkawinan antara Penggugat dan Tergugat berjalan secara harmonis. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu antara Penggugat dan Tergugat sering terjadi perselisihan. Perselisihan antara Penggugat dan Tergugat kerap terjadi dan sulit untuk didamaikan lagi sebagai pasangan suami istri sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, Penggugat kemudian mengajukan gugatan perceraian ini terhadap Tergugat di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Adapun yang mendasari pengajuan gugatan perceraian ini ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur adalah tempat domisili dan tinggal Tergugat saat ini sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk Tergugat yang beralamat di Cipinang Pulo Maja No. 44, Rukun Tetangga 015, Rukun Warga 011, Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur (Bukti P3) Jo. Pasal 20 PP No. 9/1975, yang menyatakan sebagai berikut:

Gugatan perceraian diajukan oleh suami atau istri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat.

Dengan demikian, pengajuan gugatan yang diajukan oleh Penggugat di Pengadilan Negeri Jakarta Timur ini sudah tepat dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, sehingga sudah selayaknya jika gugatan Penggugat ini diterima oleh Pengadilan Jakarta Timur.

  1. Adapun perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus menerus antara Penggugat dengan Tergugat diawali sejak tahun ke 3 (tiga) perkawinan dimana Tergugat merupakan seorang karyawan swasta yang bekerja di Perusahaan Modal Asing. Setiap hari Tergugat selalu sibuk dengan pekerjaanya termasuk ketika sedang di rumah atau hari libur, kesibukan tersebut yang mengakibatkan Tergugat melalaikan tugas-tugas istri dan kedudukannya sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus urusan rumah tangga dan melayani kebutuhan Penggugat selaku suaminya.
  1. Kejadian yang sering kali terjadi memicu perselisihan dalam rumah tangga disebabkan karena kelalaian Tergugat sebagai istri untuk mengurus rumah tangga dan memperhatikan kebutuhan suami dimana seharusnya waktu untuk keluarga lebih diutamakan dan diperhatikan dari pada waktu dan kepentingan Tergugat. Bahwa salah satu contoh bentuk perlakuan yang sering kali terjadi adalah Penggugat pulang kerja malam hari dan sampai di rumah mendapati bahwa tidak ada minuman, makanan ataupun sambutan hangat seorang istri kepada suaminya. Di sisi lain pada hari libur yaitu Sabtu dan Minggu, Penggugat sering kali melakukan pekerjaan rumah tangga dan melayani keperluannya sendiri. Setiap kejadian-kejadian tersebut Penggugat sebagai seorang suami telah berkali-kali mengingatkan mengenai tugas seorang istri dan hanya meminta Tergugat untuk mengatur waktu untuk keluarga dan pekerjaannya, akan tetapi nasihat dari Penggugat tidak pernah didengarkan dan diindahkan malah menjadi perselisihan dan percekcokan yang membuat keadaan rumah tangga menjadi dingin.
  1. Selama 5 (lima) tahun menjalin hubungan rumah tangga dengan Penggugat, Penggugat telah mencoba untuk sabar dan terus memberi nasihat kepada Tergugat agar Tergugat berubah menjadi ibu rumah tangga dan menjadi istri yang lebih baik. Penggugat juga telah berupaya meminta bantuan dari pihak ketiga yaitu orang tua Tergugat dan orang tua Penggugat untuk menasihati dan memberikan pemahaman mengenai tugas dan kedudukan seorang istri serta perlunya membagi waktu untuk keluarga. Namun,  nasihat- nasihat tersebut tetap tidak diindahkan dan tidak membuat prilaku dari Tergugat berubah.
  1. Tindakan Tergugat tersebut merupakan prilaku yang tidak tepat dilakukan seorang istri terhadap suaminya, yang mana seharusnya seorang istri merupakan ibu rumah tangga, dimana tugasnya harus menghormati dan menuruti perintah suami untuk mengurus rumah tangga tangga sebaik-baiknya, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 34 ayat (2) UU No. 1/1974, sebagai berikut:

Istri wajib mengatur urusan rumah-tangga sebaik-baiknya.

Berdasarkan perbuatan Tergugat tersebut telah menimbulkan hak bagi Penggugat untuk mengajukan gugatan perceraian ini, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 34 ayat (3) UU No. 1/1974, sebagai berikut:

Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.

  1. Perselisihan terus menerus yang terjadi antara Penggugat dan Tergugat telah mengakibatkan putusnya komunikasi dalam kehidupan perkawinan mereka, dan Akibat ketidakharmonisan  hubungan antara Penggugat dan Tergugat, maka sejak oktober 2018 diantara Penggugat dan Tergugat sudah tidak pernah lagi terjadi hubungan suami istri sebagaimana layaknya pasangan suami istri yang masih harmonis.

untuk memperoleh dan mengetahui versi lengkap dari Format Gugatan Perceraian (dalam format dokumen microsoft word atau pdf), mohon dapat menghubungi Admin dari Kantor Pengacara Jakarta pada 0816 1920 335 (Gratis Konsultasi). Besar harapan kami, Kantor Pengacara Jakarta dapat membantu menyelesaikan masalah anda. Terimakasih.

Check Out These Related Posts

0 Comments

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *